Yaagan berhak atas makanan yang anda makan karena anda membayarnya. Namun di sisi lain apabila makanan yang kita pesan tidak habis secara tidak langsung anda akan membuang salah satu sumber pangan yang ada di negri kita sendiri. Kesimpulan Quote: Alangkah lebih baiknya kita bisa menghargai makanan yang kita beli.
Bilaselesai dari makan lalu masih tersisa di pinggir piring sisa-sisanya mereka tidak menghabiskannya. Perbuatan seperti ini menyelisihi perintah Nabi Muhammad ď·ş!" (Syarah Riyadhus Shalihin, III/532) Semoga kita tergolongkan dalam pihak yang menerapkan semua sunnah Nabi Muhammad ď·ş lalu mengajak serta orang lain padanya. Wallahu A'lam Bishawab.
Mengambilmakanan menggunakan sendok yang berbeda. Jangan menggunakan sendok yang kamu pakai untuk makan untuk mengambil makanan dari piring-piring di tengah meja. Kalau kamu sampai keliru, orang Vietnam menganggap hal itu sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Baca: Liburan ke Jepang, Ini 5 Hal yang Wajib Dilakukan di Tokyo. Memakai sumpit
Oleh A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University) Salah satu perbuatan yang dimurkai Allah SWT, adalah seenaknya menyisahkan dan membuang buang makanan dan minuman. Kebiasan menyisahkan air minum di gelas dan botol, atau makanan tersisa di piring, segera hentikan, karena bisa jadi penyebab seretnya rezeki dan terbuangnya
Harakatunacom. - Ironis, Indonesia yang merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia nyatanya memiliki sampah makanan terbesar di dunia
Ketikamakan hendaknya menghabiskan makanan kita dan tidak menyisakan makanan di piring, meskipun itu hanya sebutir. Menyisakan makanan dan membuangnya termasuk perbuatan tercela dalam Islam karena hal itu termasuk perbuatan menyia-nyiakan harta dan nikmat Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah benci terhadap tiga hal, yaitu berita palsu atau gosip, menyia-nyiakan harta atau makanan
Takjarang kita sering menyisakan makanan tanpa menyadari jika di luar sana masih banyak orang kelaparan. Dengan gerakan ini, WFP mencontohkan lukisan di sisi piring yang menggambarkan orang-orang kelaparan. Hal ini agar, setiap menyisakan makanan, kamu bisa melihat gambar orang berebut makanan yang tidak kamu habiskan itu.
Antaralain ada sebuah "ajaran" yang keliru sebagian orang, sehingga kemudian menjadi "tradisi" mereka ketika makan. Yaitu "jangan menghabiskan semua makanan di atas piring, sebagian harus disisakan". Hal itu mereka lakukan supaya ada kesan bahwa mereka bukan orang yang sedang kelaparan atau orang yang benar-benar sangat membutuhkan makanan.
Mungkinbisa dikatakan jijik jika menjilatnya di tengah-tengah makan, kemudian di sini nampak bekas air liurnya. Namun kalau menjilatnya setelah selesai makan atau melihat ada sisa pada piring, maka seperti itu adalah bagian dari yang ia makan. Boleh makan dengan seluruh jari, misal ketika makan nasi dan semacamnya.
Berikutadalah 5 hal yang dilarang dilakukan saat menyantap makanan menurut Islam. Tidak mencela makanan Sering kita mengomentari makanan yang akan kita santap. Entah dari rasanya yang terlalu asin atau dari tampilannya yang tidak sedap dipandang. Perkataan semacam ini perlu diwaspadai karena bisa jadi termasuk ke dalam perbuatan mencela makanan.
zEGq. JAKARTA, - Aktivitas yang padat, terkadang membuat sebagian orang menyepelekan kegiatan membersihkan rumah yang paling kecil, yakni mencuci piring. Padahal, dengan segera mencuci piring, akan menjadikan dapur lebih rapi dan teratur. Sebaliknya, cucian piring yang menumpuk akan menjadikan dapur sebagai sarang serangga serta hama yang tidak diinginkan dari Taste of Home, Rabu 26/5/2021, kegiatan yang sangat banyak, membuat sebagian orang mencuci piring tidak maksimal dan meninggalkan masih meninggalkan noda di dalam piring dan peralatan makan lainnya. Baca juga Cara Cerdas untuk Menghilangkan Goresan dari Piring Porselen Putih Oleh karena itu, ada beberapa kesalahan dalam mencuci piring yang tidak boleh dilakukan, antara lain sebagai berikut. 1. Membiarkan piring menumpuk Meninggalkan piring di wastafel dapur untuk dicuci nanti bukan hanya kebiasaan bermalas-malasan, tapi juga bisa berbahaya. Bakteri dapat tetap hidup hingga empat hari di piring bekas Anda dan menyebar ke seluruh lagi kerak saus atau sisa makanan membuat mencuci piring semakin sulit. Jika Anda benar-benar tidak ingin membersihkan saat Anda pergi, setidaknya bilas piring dari sisa bahan makanan yang menempel. 2. Menggunakan terlalu banyak sabun Pernahkah Anda mengeluarkan gelas dari lemari dan terlihat keruh dan sedikit kotor? Jika keadaannya seperti itu, mungkin Anda menggunakan terlalu banyak sabun cuci piring saat mencucinya. Baca juga Cara Mudah Membersihkan Mesin Pencuci Piring Busa yang dihasilkan sabun cuci piring secara berlebihan dapat meninggalkan residu lengket di piring Anda jadi gunakan satu atau dua sendok makan sabun saat mencucinya. 3. Mengeringkan dengan lap kotor Kain lap yang digantung di wastafel yang "hanya untuk piring dan tangan" mungkin telah menjadi penampung semua tumpahan. Artinya mengandung kotoran, kotoran dan bahkan E. coli dan kuman lainnya. Sebagai solusinya, pastikan piring Anda mengering tanpa dilap atau sering mengganti handuk piring.
– “Makanan adalah anugerah. Maka dari itu, harus diperlakukan dengan baik”. Begitulah kata seorang novelis asal Amerika Serikat AS Chris Bohjalian yang meminta setiap orang untuk menghormati makanan. Hal itu mengingat, makanan merupakan salah satu sumber kehidupan setiap makhluk hidup di dunia, termasuk manusia. Di sisi lain, bila makanan disia-siakan atau disisakan, hal ini bisa menjadi separuh penduduk dunia memiliki kebiasaan menyisakan makanan dalam sebuah piring, hal tersebut dinilai dapat menimbulkan dampak kerugian yang begitu besar. Bahkan, masalah yang ditimbulkan bisa membahayakan ekosistem secara global apabila sebagian penduduk dunia punya kebiasaan tersebut. Lalu, apa saja kerugian itu? Simak ulasannya berikut. 1. Peningkatan sampah organik Selama ini, isu masalah sampah hanya fokus pada pengelolaan sampah anorganik seperti sampah plastik. Padahal, sampah organik juga memiliki dampak negatif terhadap keberlanjutan lingkungan. Peningkatan volume sampah organik dalam beberapa tahun belakangan yang berasal dari sisa makanan, sayuran, dan buah menjadi masalah serius yang harus segera ditangani. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas bersama Foreign Commonwealth Office Inggris mencatat, selama 20 tahun terakhir, Indonesia menyumbang sekitar 23-48 juta ton sampah makanan per tahun. Jumlah ini setara dengan 115-184 kilogram per kapita per tahun. Sementara itu, berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional SIPSN 2021, jumlah sampah secara nasional mencapai 26,35 juta ton per tahun. Jumlah tersebut terdiri dari sampah organik sebesar 41,92 persen, anorganik 50,5 persen, dan lainnya sebesar 7,58 persen. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan LHK, jumlah sampah organik di Indonesia menyumbang 56 persen dari total sampah yang beredar pada 2021. Peningkatan jumlah sampah organik dapat menjadi akar dari masalah lain, seperti pencemaran lingkungan, penyebaran penyakit, dan pemanasan global akibat gas metana yang terlepas ke atmosfer. 2. Timbulkan masalah ketahanan pangan Berdasarkan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia FAO pada 2020, sepertiga dari makanan yang dikonsumsi kerap disisakan. Akibatnya, makanan sisa dari penduduk dunia mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Di sisi lain, stok bahan makanan di dunia tidak melimpah dan jumlah penduduk yang mengalami permasalahan gizi atau kekurangan makanan cukup banyak. Alhasil, kebiasaan menyisakan makanan bisa menimbulkan permasalahan ketahanan pangan secara serius. Akan banyak penduduk yang kekurangan makanan apabila masalah tersebut tidak segera diatasi. Sebaliknya, jika seperempat dari jumlah sisa makanan tersebut bisa diselamatkan, sekitar 821 juta orang yang kekurangan gizi di seluruh dunia dapat terbantu. 3. Boros energi Saat disisakan, semua sumber energi yang digunakan untuk memproduksi makanan secara tak langsung juga ikut terbuang. Dok. Shutterstock/Belish Ilustrasi pemborosan Merusak lingkungan Keberadaan limbah makanan juga berpengaruh besar terhadap kerusakan lingkungan. Alhasil, hal ini dapat mengganggu ekosistem di sekitarnya. Dilansir dari laman Senin 9/11/2020, akumulasi sampah dan gas metana yang berasal dari limbah makanan pada tempat pembuangan akhir TPA dapat memicu bencana ledakan sampah. Ledakan tersebut jelas bisa menyebabkan longsor dan merusak ekosistem di sekitarnya. Tak hanya itu, banyaknya tumpukan sampah makanan juga dapat menimbulkan air lindi. Untuk diketahui, air lindi berasal dari tumpukan sampah yang bercampur dengan air hujan. Air lindi sangat berbahaya dan beracun karena mengandung unsur logam berat, seperti timbal, besi, dan tembaga. Bila tidak diolah dengan baik, air lindi akan meresap ke tanah dan mencemari air minum. Selain itu, air lindi yang masuk ke aliran sungai juga dapat merusak ekosistem di sekitarnya. 5. Sebabkan pemanasan global Seperti telah disinggung, limbah makanan juga dapat memicu pemborosan energi. Lantaran energi yang digunakan berasal dari bahan bakar fosil, emisi karbon yang ditimbulkan akibat limbah makanan pun tinggi. Hal ini berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Dok. Shutterstock/Nexus 7 Ilustrasi pemanasan global. Tak hanya itu, sisa makanan yang menumpuk dan membusuk di pembuangan sampah juga akan menghasilkan gas metana. Gas metana sendiri merupakan salah satu gas rumah kaca yang turut berdampak pada pemanasan global. Dilansir dari laman gas metana dikatakan 25 kali lebih berbahaya daripada karbon dioksida CO2 dalam hal memerangkap panas di atmosfer. Maka dari itu, keberadaan limbah makanan dinilai sebagai salah satu dari penyebab pemanasan global. Itulah beberapa masalah yang timbul akibat kebiasaan menyisakan makanan. Guna mengurangi masalah tersebut, setiap orang wajib membiasakan diri makan tanpa sisa. Adapun untuk membantu masyarakat agar mau menghabiskan setiap makanannya, Bank DBS tengah melakukan gerakan peduli lingkungan melalui kampanye “Towards Zero Food Waste” dan MakanTanpaSisa. Sebagai informasi, kampanye “Towards Zero Food Waste” dan MakanTanpaSisa bertujuan untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap sampah makanan yang bisa menimbulkan masalah lingkungan hingga pemanasan global. Lewat gerakan tersebut, masyarakat Indonesia juga diarahkan agar mulai mengurangi sampah makanan melalui kebiasaan sehari-hari. Executive Director and Head of Group Strategic Marketing Communication Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan, gerakan MakanTanpaSisa merupakan realisasi dari pilar keberlanjutan yang diusung Bank DBS Group, yakni Creating Impact Beyond Banking. Ia melanjutkan, membantu masyarakat dan menjadi bank dengan tujuan positif merupakan DNA dari Bank DBS Indonesia. Oleh karena itu, Bank DBS Indonesia terus berinovasi untuk menjadi bank yang mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. “Semua itu dilakukan Bank DBS Indonesia atas kesadaran sebagai lembaga keuangan yang menjalankan bisnis berkelanjutan demi generasi masa depan dan lingkungan hidup,” terangnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia menambahkan, Bank DBS Indonesia juga secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang berdampak sosial lewat kerja sama dengan komunitas dan wirausaha melalui DBS Foundation.
› Riset›Jangan Membuang Makanan! Kehilangan dan pemborosan makanan tidak hanya berdampak pada ketahanan dan keamanan pangan. Namun, hal itu juga bisa memberi kontribusi pada krisis lingkungan, khususnya pada perubahan iklim. Kompas/Priyombodo Pemberitahuan kepada warga yang hendak menikmati makanan dan minuman gratis dari relawan Sahabat Sedekah di kawasan Perumahan DKI Joglo, Jakarta Barat, Jumat 28/8/2020.Masih ingat dengan peringatan orang tua untuk selalu menghabiskan makanan yang kita santap di piring? Berbagai peringatan muncul dari orang tua. Seperti ”Ayo makanan dihabiskan, nanti ayamnya mati” atau ”Jangan membuang sebutir nasi, nanti nasinya nangis”. Saat itu, kita menuruti wejangan tersebut tanpa tahu artinya hingga membawa kebiasaan tersebut sampai orang tua tersebut benar. Intinya, jangan pernah membuang makanan yang telah disediakan oleh orang tua dengan susah payah. Mitos ayam peliharaan akan mati karena zaman dulu ayam masih mahal harganya dan anak-anak umumnya memiliki ayam peliharaan. Juga dengan nasi yang menangis terkait dengan membuang berkat yang sudah didapat. Namun, tanpa disadari masih ada kebiasaan buruk kita membuang makanan. Bisa sisa makanan di atas piring ataupun di alat masak. Bisa juga makanan yang membusuk di lemari pendingin sehingga tidak bisa ”Memperkuat Ketahanan Pangan melalui Pengurangan Pemborosan Pangan Ketut&Ahmad, 2012” juga menyebutkan perkiraan berapa ton beras yang terbuang jika setiap penduduk Indonesia menyisakan nasi satu butir di atas piringnya. Dalam 1 kilogram beras ada 50 butir nasi. Jika setiap kali makan satu butir nasi tersisa, berarti dalam sehari ada tiga butir yang akan terbuang. Diperkirakan dengan 250 juta penduduk, akan ada 15 ton per hari atau ton per tahun beras yang akan baru perkiraan di Indonesia. Bagaimana dengan negara lain? Organisasi Pangan dan Pertanian FAO menyebutkan, sepertiga makanan yang diproduksi atau sepertiga miliar ton makanan akan terbuang begitu saja. FAO juga mencatat, masyarakat di Eropa dan Amerika Utara menyia-nyiakan 95-115 kilogram makanan setiap tahun. Limbah makanan dari Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara berkisar 6-11 kilogram per dari laman The Guardian, hasil kajian Waste and Resources Action Programme WRAP, lembaga pengolah limbah di Inggris, 3,6 miliar ton makanan dibuang atau dimakan ternak setiap tahun dan lebih dari 10 kali sampah makanan dibuang oleh pedagang. Jika dihitung dengan uang, lebih dari 1 triliun poundsterling nilai makanan menjadi sampah sebelum mencapai juga Baznas Ajak Hotel dan Restoran Kurangi Sampah MakananSampah makananApa yang digolongkan sebagai sampah makanan food waste? FAO 2013 mendefinisikannya sebagai produk pangan yang masih layak untuk dikonsumsi ataupun yang telah rusak atau kedaluwarsa, tetapi dikeluarkan dari rantai pasok karena perilaku ekonomi dan manajemen stok yang buruk atau kelalaian. Sampah makanan terdiri dari food waste pemborosan pangan dan food loss kehilangan pangan yang keduanya memiliki arti dan kehilangan pangan ini menjadi salah satu indikator dari Indeks Keberlanjutan Pangan Food Sustainability Index yang diterbitkan oleh The Economist Intelligence Unit EIU bekerja sama dengan Barella Center for Food & Nutrition. Indeks ini diterbitkan mulai 2016 dan perhitungan sudah dilakukan hingga Indonesia untuk indikator ini terbesar dibandingkan dua indikator lain, yakni 61,4. Nilai tersebut masuk kategori buruk dan menduduki peringkat ke-53 dari 69 demikian, skor tersebut sudah menunjukkan perbaikan dari skor tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2016, nilainya 32,53 dan tahun 2017 sebesar 42, tiga tahun berturut-turut, posisinya bergantian dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Catatan Barilla 2017, setiap tahun masyarakat Indonesia membuang sampah makanan 300 kilogram. Adapun Saudi Arabia lebih banyak lagi, yakni 427 RADITYA MAHENDRA YASA Warga menjemur sisa nasi untuk diolah lagi menjadi makanan di Kampung Nelayan Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa 28/4/2020. Berbagai cara dilakukan warga untuk dapat bertahan di tengah perekonomian yang sulit seperti saat juga Rapor Merah Keberlanjutan PanganKehilangan panganFood loss atau kehilangan pangan mengacu pada produk pangan yang terbuang sebelum sampai kepada pelanggan, seperti gagal panen dan ikan di laut yang teracuni. Nilai indeks 2018 sebesar 57,4, lebih rendah dibandingkan pemborosan indeks terendah disumbang oleh subindikator persoalan distribusi pangan terkait infrastruktur 25 persen. Bisa jadi nilai ini akan meningkat di masa pandemi terkait dengan terganggunya distribusi hasil pertanian karena ada pembatasan wilayah di beberapa sisi lain, permintaan konsumen di pasar yang berkurang juga mengakibatkan penumpukan produksi pertanian di beberapa sentra pertanian. Penurunan ini terkait dengan daya beli yang rendah karena pendapatan penduduk berkurang. Selain itu, sektor hotel, restoran, dan katering juga tutup. Penumpukan ini berpengaruh pada merosotnya harga pertanian di tingkat itu, menurut penelitian ”Memperkuat Ketahanan Pangan melalui Pengurangan Pemborosan Pangan”, kehilangan pangan di Indonesia umumnya terjadi sepanjang proses produksi dan rantai pangan, sejak dari tahap kegiatan produksi bahan mentah pangan usaha tani, pascapanen, hingga pengolahan. Nilai indeks subindikator proses produksi tersebut mencapai 97,3 pangan yang relatif besar umumnya terjadi pada bahan pangan dalam bentuk masih segar, seperti sayur. Adapun pada awal terjadi perubahan bentuk, seperti padi menjadi beras, jagung tongkol menjadi jagung pipilan, dan sayuran dalam bentuk tersebut juga menyebutkan, kehilangan pangan terbesar di dunia dari umbi-umbian, yakni 40 persen. Saat panen umbi, petani sulit mengenali tingkat kematangan umbi karena ada di bawah tanah. Jadi, umbi yang sebenarnya belum matang berpotensi ikut pangan kedua berasal dari buah dan sayuran yang mencapai 37,6 persen. Buah dan sayur lebih cepat membusuk. Jika membusuk, buah dan sayur tersebut di pasar tidak laku dan terbuang begitu EL HADAD Seorang warga di wilayah Sahel, Afrika. Lebih dari 5 juta warga di wilayah itu saat ini terancam kelaparan berat di tengah mulai merebaknya pandemi Covid-19 dan ancaman kekerasan panganBerbeda dengan kehilangan pangan yang terjadi di tingkat produsen, food waste atau pemborosan pangan terjadi pada konsumen. Semua produk makanan yang siap diolah atau disajikan untuk dikonsumsi, jika tidak habis, akan menjadi subindikator pemborosan pangan atau disebut end-user waste tercatat 69,6. Nilai terendah dari subindikator tersebut adalah aspek kebijakan untuk mengatasi food waste 44,4 persen, pengurangan food waste 50 persen, serta institusi yang mengurusi food waste mencapai 50 indeks Barilla tersebut benar. Sampai saat ini, upaya pemerintah masih sangat minim dalam mengatasi masalah pemborosan pangan. Hal ini karena tidak ada regulasi yang mengatur food waste. Regulasi terkait pangan berupa Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2017 mengenai Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi baru akan direvisi tahun ini. Menurut rencana, perpres tersebut akan mengatur mengenai kehilangan dan pemborosan dan Ahmad 2011 dalam penelitiannya menyebutkan, potensi pemborosan pangan sudah dimulai saat bahan pangan diperjualbelikan di tingkat pasar pengecer hingga tiba di rumah konsumen. Demikian juga dengan pangan yang terlalu lama disimpan di pasar karena tidak ada yang membeli atau pangan yang tersimpan lama di lemari pendingin konsumen. Sisa makanan di atas piring yang tidak dimakan pun bisa menjadi pemborosan pangan ini lebih pada gaya hidup dan ketidaktahuan bagaimana menyimpan makanan. Gengsi untuk menghabiskan makanan di depan orang banyak karena khawatir jika disebut banyak makan bisa menjadi ARIYANTO NUGROHO Wida 26, warga Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, menyuapi anaknya, Tian 3, saat makan siang dengan menu nasi singkong serta lauk-pauknya, Jumat 23/9. Nasi singkong yang terbuat dari singkong yang digiling menjadi tepung ini menjadi makanan pokok warga kampung adat tersebut dan masih terjaga hingga Banyak tidak menyadari dampak buruk dari adanya limbah makanan yang diperoleh dari kehilangan ataupun pemborosan pangan. Anggapan yang muncul, sampah makanan adalah sampah organik sehingga akan lebih cepat terurai di alam dan tidak memberikan dampak ternyata sampah makanan ini juga meningkatkan gas rumah kaca yang memperburuk perubahan iklim. Sampah yang membusuk di TPA, menurut riset Barilla, akan menghasilkan gas metan, yakni gas rumah kaca yang 21 kali lebih berbahaya ketimbang karbon dioksida. Riset yang sama juga menyebutkan, mengurangi sampah makanan di Amerika 20 persen akan mengurangi 18 juta ton gas rumah kaca setiap pangan ini tanpa disadari bisa menyebabkan kerugian negara. Merujuk dari laman WRI Indonesia, FAO secara global memperkirakan, makanan bernilai sekitar 940 milliar dollar AS hilang atau terbuang setiap tahun di seluruh rantai pasokan itu, FAO juga melaporkan kerugian dari food loss and waste di sejumlah negara. Makanan bernilai sekitar 32 milliar dollar AS, misalnya, dibuang di China. Di Afrika Selatan, kerugian pascapanen bernilai 4 miliar dollar AS per tahun. Adapun limbah makanan di rumah tangga dan restoran di Amerika bernilai dollar AS per tahun dan sekitar dollar AS per tahun untuk rata-rata rumah tangga di lain yang cukup menonjol, hal ini berpengaruh pada ketahanan pangan. Penelitian Ketut dan Ahmad juga menunjukkan, pengurangan pemborosan pangan 25 persen akan bermanfaat meningkatkan 4,1 kilogram per kapita ketersediaan pangan beras di Indonesia dan 2,5 kilogram per kapita beras penduduk dunia. Indonesia sebenarnya berpotensi meningkatkan ketersediaan pangan hingga ton. Jika pemborosan pangan ini bisa ditekan sampai 50 persen, tambahan ketersediaan pangan dari beras di Indonesia bisa mencakup untuk sekitar 10 juta Patria Gupta Perumahan berdiri di areal yang sebelumnya berupa persawahan di Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat 17/1/2020. Keberadaan sawah yang menjamin keberlangsungan persediaan pangan terus terancam sejalan dengan meningkatnya permintaan lahan untuk hunian. Jawa Timur merupakan lumbung padi sisi lain, saat semakin banyak orang yang membuang makanan, masih banyak orang lain yang kelaparan. Nilai Indeks Kelaparan Dunia 2019 mencapai 20, masuk kategori ”serius”. Meski dalam lima kali penghitungan angka ini menunjukkan penurunan dan perbaikan data, masih ada beberapa negara di dunia yang nilai indeksnya lebih dari 35, bahkan 50, dengan kategori ”peringatan” dan ”peringatan ekstrem”. Beberapa di antaranya adalah Republik Afrika Tengah, Yaman, Chad, Madagaskar, Zambia, Liberia, Haiti, Timor Leste, dan masa pandemi ini, kehilangan pangan dari produksi pertanian harus segera teratasi. Dampaknya tak hanya merugikan petani yang berujung pada penurunan kesejahteraan petani. Namun, kondisi ini juga mengancam ketersediaan pangan karena bisa jadi petani akan mengurangi kualitas produksinya pada masa tanam sisi lain, kebiasaan membuang makanan yang siap disantap juga harus dikurangi. Kita tidak tahu sampai berapa lama usia pandemi ini. Pangan yang tersedia harus bisa dimanfaatkan dengan bijaksana. LITBANG KOMPAS